Toleransi Beragama nampaknya sudah ada jauh sebelum zaman zaman kemerdekaan. Zaman kerajaan juga termasuk zaman yang mengalami toleransi antar umatnya tersendiri. Bahkan kerajaan Majapahit menjadi kerajaan yang paling toleran, sebelum masa runtuhnya tersebut. Bahkan tak hanya itu kerajaan mataram kuno juga menjadi kerajaan yang bertoleransi karena didalamnya terdapat 2 agama sekaligus didalamnya yaitu hindu dan Buddha.
Dan dizaman
nabi maupun dizaman wali (pulau jawa) sikap toleran juga sudah terjadi. Untuk
zaman nabi jauh di tanah jazirah arab banyak peristiwa yang terjadi namun tetap
mentolerir semua yang terjadi. Untuk dizaman wali pun demikian. Wali songo
contohnya, ketika itu juga saat proses dakwah penyebaran agama islam erat berhubungan degan agama hindu dipulau
jawa. Contohnya kesenian wayang yang semula dari agama hindu, diadopsi sunan
kalijogo untuk menarik minat masyarakat jawa pada saat itu. Atau bahkan tradisi
bancaan yang juga demikian semula dari agama hindu dengan menggunakan
persembahan sesaji dan bunga-bungaan, kemudian diubah dengan doa-doa kepada
baginda nabi ataupun kepada tuhan yang maha esa.
Tidak
hanya dizaman itu saja toleransi antar masyrakat di indonesia sendiri juga
sudah ada sejak zaman peperangan. Kita bisa merdeka seperti saat ini juga
berkat sikap toleransi dari pendahulu kiya. Sehingga kita bisa menjadi seperti
saat ini. Toleransi didalam tubuh bangsa Indonesia sangat dibutuhkan bahkan
menjadi tulang punggung utama dalam kehidupan bermasyarakat. Karena bangsa
Indonesia terdiri dari berbagai macam suku golongan, ras, dan tentunnya agama.
Bangsa Indonesia sendiri menjadi bangsa yang sangat bertoleransi di dunia,
karena berbagai ajaran ataupun hal didalamnya. Jika tanpa adannya toleransi,
tidak mungkin bangsa kita bisa bersatu, karena semua akan mementingkan
golongan. Begitupula bangsa ini dahulu, jika para pendahulu-pendahulu kita
ataupun pahlawan terdahulu tidak mempunyai sifat toleransi, maka persatuan
tidak akan timbul dan kemerdekaan tidak kunjung didapat. Karena semua pada saat
itu mengepentingkan kepentingan golongan, bukan lagi individu. Bahkan mereka
saja berbeda suku, agama, ras, daerah. Namun semangat mereka untuk memerdekakan
bangsanya agar bebas dari penjajahan sangat luar biasa.
Setelah
kemerdekaan pun Indonesia sempat pernah digoncang dengan isu negara syariat
ataupun negara dengan agama islam, namun berkat keputusan bersama dari semua
pihak, tidak hanya satu agama saja. Indonesia kembali menjadi negara persatuan.
Bahkan sempat dimana pada saat itu preseiden ke-4 Indonesia ( Gus Dur) yang
merupakan dari golongan santripun, menjadi presiden paling toleransi yang
membebaskan rakyatnya. Padahal background beliau sendiri adalah dari golongan
pemuda islam pada masa mudannya. Memang benar adannya, tidak ada agama yang
menghasut, memprovokasi atau mengujar kebencian. Karena hakikatnya semua agama
mengajarkan kebaikan, mengajarkan hidup berdampingan deengan sesama umat. Tanpa
memandang latar belakang, karena kita semua juga ciptaan tuhan, jadi tidak
pantas untuk mengucilkan atau memilih-milih dalam bergaul dengan ciptaan tuhan
yang lain.
Makin
tahun memang sikap toleransi di Indonesia memang bisa dikatakan menurun, namun
semua itu tidak bisa tergerus habis karena ulah sekelompok yang jelek. Karena kita
mempunyai dasar negara yang kuat. Yang menjadi pondasi utama terlaksanannya
suatu negara.
Indonesia
sendiri bahkan memiliki 6 agama yang diakui pemerintah, dan masih banyak agama
yang lain
Sebut
saja :
-
Agama
Islam
-
Agama
Kristen
-
Agama
Katholik
-
Agama
Hindu
-
Agama
Buddha
-
Agama
Konghucu
Dalam
agama-agama tersebut juga terdapat perspektif masing-masing mengenai toleransi
beragama, seperti berikut ini :
Toleransi
dalam perspektif islam :
Yaitu
mencapai hubungan yang harmonis antar umat beragama, ajaran yang lurus penuh
toleransi. Islam rahmatan lil allamin sendiri memiliki arti “agama yang
mengayomi seluruh alam”. Islam selalu menawarkan dialog dan toleransi dalam
bentuk saling menghormati bukan memaksa. Islam menyadari bahwa keragaman umat
manusia dalam beragama adalah kehendak Allah Swt. Dalam islam, toleransi
berlaku bagi semua orang, baik itu sesama muslim maupun non-muslim.
Didalam
agama islam sendiri juga diterapkan ajaran toleransi oleh baginda nabi Muhammad
saw. Meskipun ajaran yang lurus tetapi penuh toleransi. Jadi jika ada sesuatu
yang kurang baik menurut seseorang, lalu kita ambil itupun bisa terjadi jika
ada toleransi.
Toleransi
dalam perspektif Kristen :
Di dalam
agama Kristen sendiri Alkitab menjadi sumber dasar dari berbagai kehidupan umat
Kristiani yang bertoleransi dengan orang-orang beragama lain. Dengan demikian
seorang Kristen haruslah orang yang bisa hidup bertoleransi dan rukun dengan
kelompok-kelompok lain yang berbeda keyakinan / agama dengannya bahkan harus
berbuat baik kepada mereka.
Toleransi
dalam perspektif Katholik :
Dalam
agama katholik juga demikian sikap mengakui dan menghormati agama lain bukan
karena ada kesamaan dengan agama Kristen melainkan karena agama lain itu
benar-benar lain dari agamaku, agama lain itu benar-benar berbeda dari agamaku.
Toleransi
dalam perspektif Hindu :
Untuk
agama Hindu ajaran toleransi sendiri dalam Agama Hindu-Dharma Termuat pada Tri
Hita Karana, Tri Hita Karana mengandung pengertian tiga penyebab kesejahtraan
itu bersumber pada keharmonisan hubungan antar manusia dengan Tuhannya, manusia
dengan alam lingkungannya, dan manusia dengan sesamanya.
Toleransi
dalam perspektif Buddha :
Dalam
agama Buddha toleransi berarti, bahwa setiap orang memiliki persamaan hak dan
harus diperlakukan sama dalam hidupnya demi kesejahteraan bersama.
Toleransi
dalam perspektif Konghucu :
Dalam
pandangan konghucu sendiri toleransi
beragama bermakna dalam agama Khonghucu, agama etnis Tionghoa ini juga
menjunjung tinggi rasa toleransi. Hal tersebut dilakukan dengan alasan bahwa
perbedaan merupakan hal yang pasti adanya dan perbedaan seharusnya tidak untuk
memecah belah melainkan untuk saling melengkapi.
Memang
keenam agama memiliki perspektif masing-masing, namun hampir sama arahnya. Yaitu
untuk mengajak kebaikan dan menanamkan sikap toleransi antar umat beragama,
dengan tidak saling bermusuhan.
Berbicara
keenam agama tersebut walaupun Tempat ibadah, hari raya pun berbeda-beda bahkan
umat Indonesia memiliki khasnya tersendiri yaitu juga ikut senang apabila agama
yang lain merayakan hari rayanya karena pasti kebagian hari libur (tanggal
merah) di kalender nasional, ataupun diskon-diskon dipusat perbelanjaan saat
hari-hari raya umat beragama. Hal ini pula yang menandakan bahwa perbedaan
memang menyenangkan. Toleransi menjadi penyambung perbedaan tersebut.
Toleransi
sering diucapkan namun kita belum mengerti secara rinci apa itu toleransi.
Toleransi sendiri intinya menghormati pendapat pihak lain, sikap pihak lain,
ajaran pihak lain walaupun kita tidak setuju. Toleransi adalah mundur selangkah
demi mencapai hubungan harmonis. Mundur tapi tidak mengorbankan prinsip.
“Menyeleweng” tapi demi mencapai yang jauh lebih baik dan tidak mengorbankan
prinsip.
Toleransi
beragama juga dibutuhkan dalam berbagai bidang, contoh saja dalam bidang
olahraga sepakbola, disana kita lihat pemain dari berbagai suku, daerah, agama,
menjadi satu untuk kepentingan negara. Dengan semangat perjuangan dan toleransi
bahkan tak jarang berhasil menjuarai kejuaraan bergengsi dilevel asean ataupun
asia. Semua demi satu Indonesia, dengan itu TOLERANSI sangat penting!!!
0 Komentar